
Kapanlagi.com - Indonesia memiliki arena pendakian maraton internasional yang memanfaatkan kerapatan antar gunung dengan ketinggian lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang jumlahnya 14 gunung.
"Kita harus meyakinkan para pegiat alam terbuka bahwa kerapatan antar gunung di Indonesia dapat dijadikan arena pendakian maraton internasional, meskipun ketinggian gunung-gunung itu rata-rata tidak mencapai 4.000 mdpl sebagaimana yang diinginkan pendaki kelas dunia," `Pamor 14 Peaks Expedition 2008, di Mataram, Jumat.
Pamor Peaks Expedition 2008 merupakan even pendakian maraton 14 puncak gunung yang dilakukan tim mahasiswa Fakultas Olahraga Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung.
Tim mahasiswa itu sukses `menaklukkan` 14 puncak gunung dalam `Pamor 14 Peaks Expedition 2008` dengan catatan waktu 13 hari 22 jam, atau 334 jam dari target 14 hari atau sehari satu gunung.
Pendakian dimulai dari Gunung Pangrango di Jawa Barat (Jabar) yang memiliki ketinggian 3.019 mdpl pada 8 Juli lalu hingga Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang ketinggiannya 3.758 mdpl pada 21 Juli 2008.
Sedangkan 12 gunung lainnya yang didaki tim tersebut adalah Gunung Ciremai (Jabar) dengan ketinggian 3.048 mdpl dalam waktu 7,40 jam, Gunung Slamet (Jateng) yang ketinggiannya 3.432 mdpl dalam waktu 8,50 jam, Gunung Sindoro (Jateng) dengan ketinggian 3.136 mdpl yang didaki dalam waktu 6,50 jam.
Kemudian Gunung Sumbing (Jateng) yang ketinggiannya 3.371 mdpl yang didaki dalam waktu 7,56 jam, Gunung Merbabu (Jateng) dengan ketinggian 3.142 mdpl dalam waktu 7,30 jam, serta Gunung Lawu (Jateng) yang ketinggiannya 3.265 mdpl dalam waktu 6,45 jam.
Gunung Welirang di Jawa Timur dengan ketinggian 3.156 mdpl, dan Gunung Arjuna (Jatim) yang ketinggiannya 3.334 mdpl yang didaki dalam waktu 21,40 jam, Gunung Semeru (Jatim) dengan ketinggian 3.676 mdpl, didaki selama 19 jam.
Selanjutnya Gunung Argopuro (Jatim) yang memiliki ketinggian 3.088 mdpl, didaki dalam waktu 24,24 jam, Gunung Raung (Jatim) dengan ketinggian 3.332 mdpl yang didaki dalam waktu 12 jam, Gunung Agung di Pulau Bali dengan waktu pendakian 8,26 jam, serta Gunung Rinjani (NTB) yang didaki dalam waktu 18 Jam.
Rustandi dan rekan-rekannya yang sukses melakukan pendakian maraton 14 puncak gunung itu menilai `XPDC Seven Summit` atau pendakian maraton tujuh puncak gunung tertinggi di dunia yang sering dilakukan para pendaki kelas dunia dapat dipindahkan ke Indonesia.
Pendakian `The Three Peaks Challenge` di Inggris juga dapat dipindahkan ke Indonesia dalam bentuk even `Pamor 14 Peaks Expedition`, namun mengandalkan gunung tropis sebagai ikonnya.
Menurut dia, selama ini para pendaki gunung kelas dunia hanya tertarik pada gunung dengan ketinggian di atas 4.000 mdpl seperti Carstenz Pyramid yang memiliki ketinggian 4.484 mdpl yang sudah masuk ke dalam daftar puncak gunung tertinggi di dunia.
Ikon dunia pendakian juga masih cenderung ke gunung es Himalaya dan lempeng benua lain.
Medan pendakian seri `Grand Slam` juga masih ke gunung es. Itu artinya, gunung tropis dan gurun pasir masih terlewatkan.
"Potensi kerapatan antar gunung di Indonesia meskipun ketinggiannya di bawah 4.000 mdpl, dapat dijadikan arena pendakian maraton internasional, karena selain kerapatannya, juga jumlah gunungnya dua kali lebih banyak dibanding tujuh puncak gunung yang digemari pendaki kelas dunia," katanya.
Ia mengatakan pendakian maraton 14 puncak gunung di Indonesia memerlukan kondisi fisik yang prima, mental yang kuat dan kemauan yang keras untuk mengukir prestasi atau rekor penyelesaian waktu tercepat menurut ukuran internasional.
"Makna lainnya tentu erat kaitannya dengan upaya mendukung pemerintah menyukseskan `Visit Indonesian Year 2008`, yakni memperkenalkan potensi wisata Indonesia dengan ciri khas gunung yang memiliki karakteristik tropis

Tidak ada komentar:
Posting Komentar